Ketika
Jauh, Barulah Aku Tersadar
Namaku
Tata, aku lahir dari keluarga sederhana dan bahagia. Bapakku seorang TNI, dan
ibuku seorang ibu rumah tangga. Aku juga punya 2 adik, dan aku sangat
menyayangi mereka. Untuk aku, keluarga sangat berperan dalam hidupku sampai
sekarang ini. Karena dari keluargalah aku belajar banyak hal. Dari yang sangat
sepele, sampai yang penting banget. Dulu, aku sering ngeledek adikku, aku
termasuk anak yang malas dulunya, selalu nyuruh adikku yang mengerjakan tugas
rumah, padahal dia masih kecil, tapi sekarang dia udah dewasa, jadi, dia bisa
lebih pintar bahkan kadang dia yang membimbing aku. Itu dulu sebelum aku jadi
seorang mahasiswa di Bogor.
Aku
yang sekarang malah harus kuat, mencoba hidup mandiri, ngekost sendiri, apa-apa
sendiri. Aku sadar sekarang, betapa mirisnya dan butuh perjuangan besar
pastinya karna tinggal sendiri di negeri orang, jauh dari keluarga tersayang,
harus benar-benar hemat, tak seperti dulu waktu masih bareng keluarga, apapun
pasti orang tua yang beliin, tapi sekarang dikirimi cuma berapa, cukup atau ngga buat hidup, harus bener-bener
di manage. Dulu aku boros banget, makanya sekarang aku coba tuk sehemat
mungkin.
Di
AKA Bogor ini, aku ngekost di deket kampus, tepatnya di Tanah Baru, saat tes aku dianter bapak ke
Bogornya, sampai penerimaan, bapak juga yang nganter sekalian serah terima di
kost. Bapakku adalah orang penting dalam hidupku, orang yang rela keringat
membasahi tubuhnya demi menghidupi keluarga. Beliau rela melakukan apa saja
demi orang-orang yang disayanginya bahagia, termasuk demi aku, beliau rela ga
masuk kerja dulu demi nganter aku, rela pinjem uang kesana- sini demi
sekolahku, beliau orang yang pegang teguh prinsipnya, apapun akan dilakukan
demi anak dan istrinya meskipun beliau harus sakit dan tertatih membanting
tulang.
Bapakku
berpesan “Hidup di negeri orang harus sopan dan hati-hati”. Itulah pesan yang
masih aku ingat sampai sekarang. Selain bapak, ibu juga sangat penting untukku,
“Ridhonya Ibu, Ridho Allah juga”. Ibuku orang yang tangguh, sosok yang
menginspirasi dan idolaku juga. Ibuku memang seorang ibu rumah tangga biasa,
tapi beliau juga seorang pedagang baju di salah satu pasar di Kebumen. Beliau
sudah menggeluti dunia perdagangan sejak beliau sekolah di SMA, dulu aku pernah
merasa malu dan kasihan karena ibu dagang baju, tapi setelah ibuku berkata,
“kalo ibu ndak jualan baju, buat makan sehari-hari pake apa mba, lagian kan
jualan baju ndak haram, kalo harus bergantung sama gaji bapak ya ga cukup
apalagi buat biaya sekolah kamu sama adik-adikmu”. Kata-kata itulah yang
membuatku sadar dan terharu, apalagi ketika aku melihat ibu pulang malam jam 7
dari pasar, mata ibu sayu (matanya
terlihat capek), badannya terasa letih banget, ya, hanya malam yang bisa jadi
waktu istirahat untuk ibu, setelah seharian bekerja, berdagang.
Disetiap
malam saat ibu mengadu pada Allah, namaku selalu disebutkan dalam doanya,
sempat aku menangis, karena aku merasa selama ini aku banyak salah sama ibu,
aku sering jahat sama ibu, ga pernah bantuin ibu, tapi ibuku selalu sabar
hadapi aku, pernah aku disuruh pijit ibu karena ibu ga enak badan, tapi apa
yang aku jawab, aku ga mau mijit ibu. Tapi sekarang ketika jauh, aku malah
ingin banget mijit ibu, peluk ibu, cium ibu, rasanya menyesal banget karena
kondisi jarak jauh dengan ibu. Kalau pesan ibu yang selalu aku pegang yaitu
“jangan lupa sholat 5 waktu, baca Al-Qur’an, sholat malam”.
So,
yang masih ada bapak ibu, jangan sampai kita kecewain mereka yah, mungkin saat
kita deket kita seenaknya ajah sama mereka, tapi, kalau kita udah jauh, kita
akan bener-bener menyesal karena dulu kita udah jahat ga nurut sama mereka.
Jadilah yang terbaik untuk orang-orang yang sudah menunjukan yang terbaik pula
untuk kita.
Itu
adalah kisahku yang nyata, semoga bermanfaat bagi teman-teman yang udah baca J