Misteri Ruang Tua
Malam ini aku coba untuk
memejamkan mata. Tapi, ini sulit sekali kulakukan. Sampai jam dinding kamarku
menunjukan pukul 02.00 baru aku bisa tertidur. Pagi pun tiba, seperti biasa aku
berangkat ke sekolah diantar sopir pribadiku yang sudah hampir 3 tahun setia
mengantarku kemana aku pergi. Sampai di sekolah, aku ingin sekali bermain
basket, “Lena, main basket yuk di lapangan”,ajak aku. Lena adalah sahabatku
dari SMP sehingga kita sudah lumayan dekat.
Tiba-tiba bola basket kami masuk
ke ruangan tua bekas toilet, yang sekarang sudah dipindah.
“Aduu…h Febe! Kenapa kamu
masukin bola ke ruang tua itu sih? Harusnya kamu masukin ke ring!”, bentak
Lena.
“Maaf…tadi aku kan nggak
sengaja, ya udah deh, aku yang ngambil, bentar ya?” kataku.
Akhirnya terpaksa aku masuk ke
ruang tua itu. Di dalam pengap sekali, seperti ada bau bangkai. Ketika aku akan
mengambil bola, tiba-tiba aku melihat benda kecil yang bersinar dipermukaan
pintu bagian depan, di salah satu ruangan kecil untuk toilet. Lalu aku ambil
benda itu.
“Febe !!! kamu nggak pingsan di
dalam kan?” teriak Lena dari luar.
“Iya ! bentar lagi aku keluar!”,
kataku sambil membawa benda kecil yang mirip diamond, dan cepat-cepat ku
masukkan ke dalam saku.
“Kamu tadi lihat apa di sana?”,
tanya Lena.
“Aku cuma lihat bola ini. Aku
jadi buru-buru soalnya takut dimarahin sama guru!”, jelasku.
Sampai di rumah, aku meletakkan
benda ini di meja riasku.
***
Malam harinya aku bermimpi
melihat seorang seusiaku di ruang tua itu. Dia telah meninggal, dan tubuhnya
terpisah-pisah. Sejak itu, mimpi-mimpi aneh selalu datang. Tapi yang paling
aneh, mimpi-mimpi itu selalu berhubungan. Malam berikutnya, hujan deras dan
petir kembali datang. Tak seperti biasanya, angin berhembus begitu kencang
menambah ngerinya malam ini. Sosok bayangan putih tiba-tiba saja muncul di
hadapanku, dan sekejap lalu menghilang.
***
Aku
bangun kesiangan, mungkin karena aku merasa penasaran dengan kejadian semalam.
Sosok gadis semalam, membuatku ngeri dan ingin menyelidiki apa yang sebenarnya
terjadi padanya. Kenapa wajah yang ia tampakkan semalam seolah menyimpan
kesedihan yang nyata.
Nanti
malam, Lena dan Siska menginap di rumahku. Ada sesuatu yang ingin kami lakukan,
berkaitan dengan mimpi aneh yang selalu ada dalam tidurku. Kami akan bermain
jelangkung. Bukan karena kami hanya ingin main-main, tapi ingin mencari tahu
siapa gadis itu dan mengapa dia menggangguku di setiap malam.
***
Malam
ini, sesuai dengan rencana, Lena dan Siska menemaniku di rumah. Selain karena
rencana kami, juga karena aku merasa takut karena sering dihantui gadis itu.
Kami mulai bermain jelangkung. Tiba-tiba suasana malam ini berubah mencekam,
angin malam berhembus kencang, gorden jendela kamarku terombang-ambing, bulu
kuduk kami berdiri, bau darah seolah menusuk hidung kami, dan pensil
jelangkungnya bergerak sendiri menuliskan sesuatu. Putri, itulah yang tertulis
dari pensil tersebut, tiba-tiba sosok bayangan putih berambut panjang muncul di
hadapan kami. Dan, saking takutnya kami teriak, ”Aaaarghhh, haaaantuuuuu!!”.
Kami pun pingsan, tapi anehnya, kami seolah di bawa ke dalam kejadian masalalu
gadis itu. Namanya Putri, usia 17 tahun di tahun 2010, artinya sekarang dia
berumur 21 tahun. Dia meninggal karena dibunuh oleh mantan pacarnya, namanya
Kak Doni, dan untuk menghilangkan jejaknya, Kak Doni membuang mayat Putri di
ruang tua tersebut.
***
Kini
kami sudah tau siapa sosok hantu tersebut. Pagi ini, kami segera menemui kepala
sekolah. Kami ingin menanyakan tentang kasus tersebut. Dan ternyata Putri
adalah anak bapak kepala sekolah kami. Sebenarnya beliau tau tentang kasus ini,
namun beliau malu untuk mengungkapnya. Kini beliau sadar, kalau Putri tidak
tenang di alam sana. Beliau akan segera melaporkan kasus ini pada polisi.
Sehingga mayat Putri bisa segera dievakuasi dan dimakamkan dengan layak.
“Sekarang
tinggal masalah Kak Doni, dia harus bertanggung jawab atas perbuatannya”,
kataku pada Lena dan Siska.
Kami
segera menemui Kak Doni, awalnya dia menyangkal, tapi akhirnya dia mau jujur
dan mengakui kesalahannya. Saat itu, Kak Doni diputus oleh Putri, dengan alasan
Putri ingin fokus belajar. Tadinya, Kak Doni sudah terima keputusan Putri, tapi
Kak Doni sering melihat Putri dengan teman-teman lelakinya. Hal inilah yang
membuat Kak Doni tidak terima, merasa dibohongi, dan tega membunuh pacarnya
sendiri.
Kak Doni berjanji akan menyerahkan diri ke
kantor polisi. Tapi untuk memastikannya, kami mengikutinya dari belakang. Dan
ternyata benar, Kak Doni berani mengakui kesalahannya di kantor polisi. Kini
sudah terungkap semua kasus ini. Kak Doni menyerahkan diri, dan mayat Putri
sudah dimakamkan selayaknya. Tiba-tiba bayangan hantu Putri muncul lagi dan
tersenyum pada kami, lalu hilang seketika.
“Padahal,
tadinya aku sempat naksir Kak Doni lho, ganteng tapi sayang ya tega membunuh
mantannya sendiri”, kata Siska.
“Terus
sekarang masih naksir nggak?”, haha ledek aku dan Lena. “Itu artinya, kita
tidak boleh tertipu hanya dengan tampangnya yang ganteng, hatinya kan belum
tentu setampan wajahnya”. Itulah kata bijak dariku untuk aku dan teman-temanku.