Selasa, 08 April 2014

Lebih dari Sekedar Malaikat

Lebih dari Sekedar Malaikat

                        Untuk sosok yang satu ini, aku yakin setiap manusia pasti memilikinya, "Ibu". Ibu adalah sosok wanita yg mempunyai hati seperti malaikat, malaikat yang selalu ada di hati kita. Beliau adalah seorang malaikat yang dikirimkan Tuhan untuk kita, malaikat yang setia mendengarkan curahan hati bahkan keluh kesah kita.
                        Terharu dan bahagia, saat orang lain bercerita tentang kita sewaktu masih bayi. Saat itu aku menangis keras merasa kehausan, dengan cepat dan tanggap malaikatku menggendongku, membelaiku, tanpa aku mintapun beliau dengan kepekaannya menyusuiku. Ku dengar alunan melodi dari suaranya yang lembut, membuatku hanyut dalam mimpi, terlalu merdu dan sangat menenangkan. Bahkan, ketika beliau tertidur dan terbangun karna tangisanku, bukan amarah yang aku dengar, tapi justru bisikan lembut dari bibirnya, "cupcup", agar aku berhenti menangis, beliau lantunkan nada nada yang indah tuk membuatku terlelap lagi. Ah, aku mungkin belum bisa merasakan semuanya, karna saat itu aku hanya seorang bayi kecil yang tak tau apa-apa, yang ku tau hanya menangis, merengek, dan tersenyum melihatnya.
                        Ketika aku belajar berdiri dan berjalan, dengan sabarnya beliau menuntun dan melatihku, perlahan tapi pasti, sampai aku benar benar mampu berjalan. Ketika aku mulai menyebut kata "ibu", alangkah bahagianya beliau, walaupun aku menyebut namanya masih terbata bata. Ah, ingin aku menangis saat aku mendengar cerita ini.
                        Namun, berbeda saat aku beranjak remaja. Masa-masa labilku, ketika itu aku mulai menjauh dari beliau. Kita terlalu asyik bermain dengan teman-teman kita, sampai terkadang kita lupa waktu, membuat beliau khawatir. Saat itu pula, kita mulai tertarik dengan lawan jenis, "pacaran", sebuah ikatan yang tak pasti, yang mudah kandas seiring berjalannya waktu. Saat itu aku takut bercerita pada beliau, aku takut beliau marah karena aku jatuh cinta dengan anak manusia yang belum ku kenal lama, dia teman sekolahku. Tapi aku dugaanku salah, justru beliau memakluminya. Hanya saja yang beliau takutkan adalah aku sakit hati karnanya. Dan ternyata firasat beliau benar, aku dan dia putus. Aku terlalu terlena karena cintanya.
                        Dan ketika itu, sosok keibuannya sangat kuat, nasehat beliau membuatku bangkit dari sakit hati yang aku rasakan saat itu. Kata-kata yang beliau lontarkan seperti air hujan yang turun di tengah kemarau panjang, seperti alunan nada yang indah di tengah kesunyian, seperti ada energi positif yang mengalir dalam tubuhku.
                        Itulah beliau, "Ibu" yang tak pernh lelah menemani kita, mendengarkan curahan hati kita. Beliau yang slalu tanggap dengan kepekaannya, kasih sayangnya begitu permanen, awet sepanjang masa, takkan ada kata kadaluarsa dalam kamus hidupnya.
                        Beliau bukan malaikat, tapi hatinya seperti malaikat, bahkan mungkin lebih lembut dari malaikat. Sosok wanita yang tak lepas dari perjalanan hidup kita, yang selalu ada dibelakang kesuksesan kita, doanya begitu keramat, dan murkanya adalah murka Tuhan. Itulah mengapa surga di telapak kaki ibu, karena pengorbanan ibu sangat besar, kesabaran, ketegaran, dan keikhlasan beliau dalam mengajarkn kita apa itu arti hidup. Ibu, seberapa besar dan hebat apa yang kita berikan untukmu, takkan mampu membayar darah yang engkau keluarkan saat melahirkanku, takkan mampu membayar air susumu yang telah mengalir dalam darahku. Ibu adalah sosok malaikat tanpa sayap yang lebih dari malaikat langit, engkau malaikat kita di bumi, di bumi tempat kita hidup dan belajar.

                       Tuhan, sampaikan rindu dan sayangku untuk malaikatku yang jauh disana, yang selalu memikirkanku setiap waktu.

Bukan Ikatan Hidrogen

Bukan Ikatan Hidrogen

Masih aku ingat, saat aku pertama kali bertemu denganmu. Tak bicara sepatah katapun, aku tak mengenalmu, bagiku kamu sangat asing, tersenyumpun tidak, apalagi menyapamu. Saat kamu memperkenalkan dirimu di depan kami, tak pernah aku hiraukan suaramu, aku asyik dengan teman-temanku yang lain. Bagaikan suara angin sepoi-sepoi yang hanya aku rasakan saat terlintas saja.
Namun seiring berjalannya waktu, kebersamaan membuatku merasakan hal yang berbeda ketika pertama kali kita bicara, ketika itu aku duduk berhadapan denganmu, ada rasa nyaman ketika aku didekatmu. Rasa nyaman yang membuatku ingin slalu di sampingmu. Nyaman mungkin adalah kata yang sederhana, sangat sederhana mungkin, tapi memiliki makna yang berarti. Berarti karena tak semua orang bisa merasakannya, tak sembarang orang bisa memilikinya. Saat itu pula aku mulai mencuri perhatianmu
Mungkin terasa aneh jika aku merasakan getaran cinta yang dia getarkan dalam relung hati ini. Karena saat itu, aku masih bersama orang lain. Ingin aku menolak dan mengelak reaksi cinta yang spontan hadir. Tapi apalah dayaku, energi dalam hatiku tak cukup menahan energi  dari luar yang semakin kuat gelombang frekuensinya. Aura wajahnya yang menenangkan itu, membuat jiwa ini terasa nyaman dan terbuai melihatnya.
Ketika aku terbebas dari ikatan dengan yang lain. Bukan terbebas, lebih tepatnya terlepas. Aku mulai berjalan sendiri dan mencoba melirik beberapa unsur di sekitarku, salah satunya dia. Dan sifat keelektronegatifanku semakin kuat, aku semakin dekat dengannya. Aku ingin membentuk ikatan dengannya, ikatan yang kuat.
Awalnya sulit sekali untuk menariknya masuk dalam kehidupanku. Dia terlalu jutek, acuh tak acuh, dan menganggapku sebatas teman sekelas biasa. Tapi berbeda denganku, aku ingin lebih dari sekedar teman teman untuknya. Aku ingin dia mengenalku lebih jauh dan lebih dalam. Namun sayang, dia tak juga melepaskan elektron cintanya untuk aku tangkap nantinya. Tapi aku takkan putus asa,akan aku tambah energi dalamku untuk memancarkan gelombang cinta yang akan dia terima.
Ternyata energiku tak sia-sia aku tambahkan. Dia mulai tertarik dan afinitas elektronnya mulai bertambah. Lalu aku tambahkan lagi energi ionisasiku untuk menangkap elektron cintanya. Dengan cepat dan spontan tanpa adanya katalis reaksi cintapun terjadi diantara kita. Hingga akhirnya kita terbentuk sebuah ikatan, “Ikatan Cinta”. Aku ingin ikatan yang terbentuk ini adalah ikatan yang kuat, tak mudah putus, seperti “Ikatan Hidrogen”. Ikatan Hidrogen adalah ikatan yang sangat kuat dibandingkan ikatan lainnya, ikatan ini tak mudah putus, jika ingin diputuskan akan membutuhkan energi yang cukup besar untuk memutuskannya.
Tak pernah aku duga sebelumnya. Ternyata menjalani hari-hari dengan ikatan yang menurutku kuat, tak mudah, bahkan sangat sulit. Banyak sekali inhibitor yang datang mencoba mengganggu ikatan kita. Awalnya mungkin kita kuat, bahkan semakin kuat, karena posisi orbital kita dekat. Tapi, setelah jarak lintasan kita menjauh dan semakin jauh, ikatan kita semakin tak terkendali, menurun menjadi ikatan ion, sampai akhirnya benar-benar lepas kendali, menjadi ikatan kovalen yang mudah putus.
Ikatan yang semula kuat ini, tak mampu melawan energi yang tiba-tiba masuk. Energi yang dipancarkan oleh unsur lain. Awalnya dia tak merespon adanya elektron baru yang hadir dalam area ikatan kita, tapi karena aku yang tak peka dengan keadaan ini, membuat elektron yang baru tersebut berusaha menarik dia. Dan alhasil,dia masuk dan berhasil tertarik oleh elektron asing yang masuk dalam hidup kami.

Begitulah ikatan kami, yang tak mampu menjadi ikatan hidrogen yang kuat. Reaksi cinta yang berlangsung spontan, dan berjalan cukup lama, bisa kandas dan putus karena elektron cinta yang dipancarkan oleh unsur baru tersebut. Aku tak tahu apakah ikatannya yang baru tersebut mampu menjadi ikatan hidrogen yang kuat?. Entahlah, biarkan waktu yang akan menjawabnya.