Lebih dari Sekedar Malaikat
Untuk sosok yang satu ini, aku yakin setiap
manusia pasti memilikinya, "Ibu". Ibu adalah sosok wanita yg
mempunyai hati seperti malaikat, malaikat yang selalu ada di hati kita. Beliau
adalah seorang malaikat yang dikirimkan Tuhan untuk kita, malaikat yang setia
mendengarkan curahan hati bahkan keluh kesah kita.
Terharu dan bahagia, saat orang lain
bercerita tentang kita sewaktu masih bayi. Saat itu aku menangis keras merasa
kehausan, dengan cepat dan tanggap malaikatku menggendongku, membelaiku, tanpa
aku mintapun beliau dengan kepekaannya menyusuiku. Ku dengar alunan melodi dari
suaranya yang lembut, membuatku hanyut dalam mimpi, terlalu merdu dan sangat
menenangkan. Bahkan, ketika beliau tertidur dan terbangun karna tangisanku,
bukan amarah yang aku dengar, tapi justru bisikan lembut dari bibirnya,
"cupcup", agar aku berhenti menangis, beliau lantunkan nada nada yang
indah tuk membuatku terlelap lagi. Ah, aku mungkin belum bisa merasakan
semuanya, karna saat itu aku hanya seorang bayi kecil yang tak tau apa-apa,
yang ku tau hanya menangis, merengek, dan tersenyum melihatnya.
Ketika aku belajar berdiri dan berjalan,
dengan sabarnya beliau menuntun dan melatihku, perlahan tapi pasti, sampai aku
benar benar mampu berjalan. Ketika aku mulai menyebut kata "ibu",
alangkah bahagianya beliau, walaupun aku menyebut namanya masih terbata bata.
Ah, ingin aku menangis saat aku mendengar cerita ini.
Namun, berbeda saat aku
beranjak remaja. Masa-masa labilku, ketika itu aku mulai menjauh dari beliau.
Kita terlalu asyik bermain dengan teman-teman kita, sampai terkadang kita lupa
waktu, membuat beliau khawatir. Saat itu pula, kita mulai tertarik dengan lawan
jenis, "pacaran", sebuah ikatan yang tak pasti, yang mudah kandas
seiring berjalannya waktu. Saat itu aku takut bercerita pada beliau, aku takut
beliau marah karena aku jatuh cinta dengan anak manusia yang belum ku kenal
lama, dia teman sekolahku. Tapi aku dugaanku salah, justru beliau memakluminya.
Hanya saja yang beliau takutkan adalah aku sakit hati karnanya. Dan ternyata
firasat beliau benar, aku dan dia putus. Aku terlalu terlena karena cintanya.
Dan ketika itu, sosok keibuannya sangat kuat,
nasehat beliau membuatku bangkit dari sakit hati yang aku rasakan saat itu.
Kata-kata yang beliau lontarkan seperti air hujan yang turun di tengah kemarau
panjang, seperti alunan nada yang indah di tengah kesunyian, seperti ada energi
positif yang mengalir dalam tubuhku.
Itulah beliau, "Ibu" yang tak pernh
lelah menemani kita, mendengarkan curahan hati kita. Beliau yang slalu tanggap
dengan kepekaannya, kasih sayangnya begitu permanen, awet sepanjang masa,
takkan ada kata kadaluarsa dalam kamus hidupnya.
Beliau bukan malaikat, tapi hatinya seperti
malaikat, bahkan mungkin lebih lembut dari malaikat. Sosok wanita yang tak
lepas dari perjalanan hidup kita, yang selalu ada dibelakang kesuksesan kita,
doanya begitu keramat, dan murkanya adalah murka Tuhan. Itulah mengapa surga di
telapak kaki ibu, karena pengorbanan ibu sangat besar, kesabaran, ketegaran,
dan keikhlasan beliau dalam mengajarkn kita apa itu arti hidup. Ibu, seberapa
besar dan hebat apa yang kita berikan untukmu, takkan mampu membayar darah yang
engkau keluarkan saat melahirkanku, takkan mampu membayar air susumu yang telah
mengalir dalam darahku. Ibu adalah sosok malaikat tanpa sayap yang lebih dari
malaikat langit, engkau malaikat kita di bumi, di bumi tempat kita hidup dan
belajar.
Tuhan, sampaikan rindu dan sayangku untuk malaikatku yang
jauh disana, yang selalu memikirkanku setiap waktu.