PHP di Tahun Baru
Asyiik,
hari ini aku pulang ke kampung halamanku. Tempat kelahiranku, yang aku rindukan
selama aku menginjakkan kaki di tanah Bogor. Udara panas membuatku tak tahan di
tengah kerumunan orang banyak dan bus-bus yang ngetem di terminal. “Kak, aku
pamit ya”, aku pamit dengan kakak sepupuku yang setia mengantarkanku sampai
terminal Bekasi. Kakakku mengangguk dan langsung bergegas meninggalkan
terminal.
Ada
rasa yang ku pendam sejak kemarin. Rasa rindu pada keluarga itu sudah pasti,
tapi ada yang special yang aku rindukan, walaupun aku tak berhak lagi
merindukannya. “Abi”, nama itu terlintas di pikiranku, di tengah kemacetan
pantura, malam yang semakin dingin. Entah mengapa aku masih merindukannya
bahkan mungkin masih mengharapkannya. “Ah, sudahlah, lebih baik aku tidur”.
Mataku pun terasa lelah karena terlalu lama memandangi jalanan lewat kaca bus
ini.
Suara
mesin mobil di jalan yang rusak membangunkanku tepat pukul 3 pagi. Aku melihat
sekeliling jalan, ternyata sudah hampir sampai di daerah kelahiranku. Sambil
menunggu sampai ke terminal, aku langsung sms
ayah, “Pah, Rita sudah sampai terminal”.
“OK”, kata ayahku. “Kiri ya pak”, teriak aku pada sopir bus. Bus pun berhenti,
aku dibantu oleh bapak kondektur untuk turun dari bus.
Ternyata
ayahku sudah menungguku di terminal. Aku langsung bergegas menghampiri beliau.
Lelaki separuh baya yang selama ini selalu menjaga dan melindungiku sedari
kecil. Kucium tangan beliau yang masih terlihat segar walau beliau semakin tua.
Sepanjang jalan pulang, kami mengobrol seputar kehidupanku di kota Bogor. Tanpa
terasa aku telah sampai di rumah, dan kulihat ibuku sedang memasak. “Ah, aku
rindu dengan kalian, ayah, ibu, adikku, dan kota ini, kota Kebumen tercinta”,
batin aku dalam hati. “Assalamualaikum, ibu, Rita pulang”, kucium tangan ibuku
sembari tersenyum.
***
Hari ini aku menghabiskan
waktuku di rumah, sendirian, karena adik-adikku tengah ke sekolah. Rasanya
lelah sekali selama ± 12 jam di bus. Mau ngapain rasanya tak ada mood yang baik. Ku buka ponselku, ada
pesan dari teman SMA sebut saja dia Arief. Aku kenal dia sudah lama, tapi kita
jarang ngobrol, karena beda kelas. Aku kenal Arief juga dari Abi, kalau dulu
dia tak mengenalkanku dengannya, mungkin aku tak kenal dengan dia. Kita ngobrol
lewat sms, dan menanyakan aku ada
dimana. Aku jawab aku ada di rumah. Libur natal, makanya aku pulang.
Sambil menunggu balasan pesan
dari Arief, aku pun merapikan kamarku yang sedikit kurang rapi sejak ditinggal
aku. Ketika aku merapikan kamar, ada sesuatu yang membuatku terkejut, “Buku
Diary”, kataku pelan. Kumpulan ceritaku ketika aku masih memakai rok putih
abu-abu. Ku ambil buku itu dan ku baca lembaran per lembaran, sampai akhirnya
lembaran tentang kenanganku dengan Abi.
Abi, sosok lelaki yang dulu
pernah mengisi hatiku, mewarnai kehidupanku, melukis masa-masa indah ketika di
SMA. Aku pun tersenyum ketika membaca dan mengingat kejadian masa lalu. Tapi,
nafasku tiba-tiba sesak, mataku berkaca-kaca, airmataku tumpah, membasahi
pipiku, aku tak sanggup lagi menahan ini, dan aku pun menangis. Itu kisah
masalaluku, harusnya aku sadar dia bukan siapa-siapaku lagi. “Ah, sudahlah”,
aku tutup kenangan itu, dank u simpan di lemari belajarku, aku tak mau
mengingatnya lagi.
***
Malam ini aku berkumpul dengan
keluarga, menonton TV, bercanda, tertawa bersama, inilah yang aku rindukan
selama aku di Bogor. Tiba-tiba dering ponselku berbunyi, ada pesan baru, dan
ternyata dari dia, Abi. “Assalamualaikum,
apa kabar?”. Aku terkejut, tak biasanya dahkan tak pernah dia menghubungiku
setelah hubungan diantara kita berakhir. “Waalaikumsalam,
Alhamdulillah aku baik, gimana denganmu?”. “Alhamdulillah, aku sehat, kamu udah pulang atau masih di Bogor?”.
Obrolan kami sampai pada akhirnya aku mengajak dia ketemuan di tempat biasa
kita dulu. Entah kenapa aku ingin bertemu dengannya, mungkin rindu, atau
sekedar ingin melihatnya, tapi yang pasti aku ingin bertemu membawa barang yang
pernah dia berikan sewaktu masih pacaran.
***
Pukul 10.00, hari ini aku akan bertemu Abi.
Aku membawa kotak yang berisi barang yang pernah diberikan dia untukku.
Jantungku berdegup kencang, pikiranku tak karuan, entah mengapa aku berubah
menjadi segrogi ini. Dia datang,
melempar senyum padaku, aku pun berbalik senyum. Sudah lama kita tak pernah
bertemu hampir 3 bulan.
“Hai Mas,
apa kabar?”, tanyaku.
“Baik, kamu
bagaimana Dek?”
“Alhamdulillah”.
Aku tersenyum padanya.
Rasanya kaku sekali obrolan ini, aku hampir
tak mampu berkata-kata, rasanya mulutku tak mau bersuara, grogi, suasana hatiku
tak karuan. Ingin aku bertanya tentang dia dengan pacar barunya. Tapi aku
takut, aku takut menangis ketika dia bercerita, dan lancang rasanya jika aku
menanyakannya.
“Aku belum
nyaman dengan dia, aku masih sayang dan kepikiran sama kamu”.
Jleb,
bagai disambar petir ketika aku mendengar keluhannya itu. Aku tak ingin
berkomentar lebih tentang dia dan pacarnya. Bagiku, percuma jika aku
berkomentar yang berlebihan, takutnya ada kesalahpahaman.
“Mungkin
itu karena hubungan kalian baru 3 bulan, makanya kamu belum mendapat kenyamanan
itu, sabar aja, nanti juga nyaman kok”, komentar aku, walaupun sebenarnya berat
banget aku mengatakan itu.
“Dek, apa
kamu masih sayang aku?”
“Aku ga tau
Mas, entah masih atau ngga, kalaupun iya, aku bisa apa, karena kamu sudah
dengannya”.
“Maafkan
aku Dek, aku masih menyayangimu,tapi aku juga tak mau menyakiti dia”.
Aku tak
tahan lagi, aku ingin menangis, dan Abi pun memelukku. “Abi, kenapa sih kita
kaya gini, apa ga bisa kita kaya dulu lagi”. Aku menangis tersedu-sedu. Abi
hanya membelai rambutku, dan berkata “Kita masih bisa kok komunikasi, jangan
menangis ya, aku paling ga suka liat kamu nangis”. Abi menghapus airmata di
pipiku. Aku pun pamit ingin pulang, aku tak tahan jika aku tetap di sini. Abi
menawarkan untuk mengantarku pulang, tapi aku tak mau, lebih baik aku pulang
sendiri, menahan apa yang sejak tadi aku tahan.
***
Malam ini malam tahun baru 2014,
tapi sayang, aku menghabiskan malam tahun baru ini di kereta api. Karena, aku
sudah mulai masuk kuliah lagi. Aku ke stasiun diantar bapak. Awalnya aku ingin
diantar Abi, tapi aku merasa tak enak, karena dia bukan siapa-siapaku lagi. Tak
pantas jika aku memintanya mengantarkanku.
Sepanjang perjalananku di
kereta, aku ditemani Abi, ditemani sms-an.
Walaupun aku tau aku cuma dijadikan selingan dia. Selama obrolan kami, aku
mulai merasa kalau Abi perlahan kembali padaku. Dia seolah memberikan harapan
lebih padaku. Akupun berpikir kalau mungkin kita bisa bersama lagi alias balikan. Walaupun aku sempat berkata
supaya dia menjauhiku, supaya kekasihnya sekarang tak merasa disakiti secara
tak langsung karena sikap aku dan Abi.
***
Sampai
di Bogor, aku merasa aneh, karena dia jarang menghubungiku. Apa yang terjadi
padanya, seolah menjadi pertanyaan yang penting untukku. Setelah aku selesai
melaksanakan ujian, aku mencoba untuk sms
dia. Aku terkejut dan kaget, seolah aku tak percaya dengan message dia kali ini.”Dek,
maaf, sesuai permintaan kamu, aku takkan menghubungi kamu lagi,kamu benar, aku
tak boleh menyakiti dia, maaf ya,mulai sekarang aku akan menjauhi kamu, dan ada
salam dari dia”.
Tuhan,
seolah tubuhku mati rasa, aku tak percaya kalau pada akhirnya akan seperti ini,
dia meninggalkanku. Jadi apa maksud dia kemarin, apa hanya memberikanku harapan
palsu. Seolah-olah dia telah membuatku terbang dan setelah tinggi, dia
menjatuhkanku dengan mudah dan tanpa beban. Jadi ini balasan dia untukku. Sakit
rasanya, perih, dan miris. Aku mulai menitikkan airmata. “Kuatkan aku, Tuhan”,
batinku dalam hati. Ini jadi pengalaman untukku, terima kasih untuk Harapan
Palsu, dan kata-kata dustamu. Kini aku sadar, aku tak boleh lagi
mengharapkanmu. Semoga Tuhan membalas semuanya yang terjadi padaku, dan semoga
kau tak menyesal dengan pilihanmu. PHP di Tahun baru,membuatku sadar, aku tak
boleh percaya denganmu semudah itu. Semudah api yang membakar kayu sampai habis
dan jadi abu.