Bukan Ikatan Hidrogen
Masih aku ingat, saat aku pertama kali
bertemu denganmu. Tak bicara sepatah katapun, aku tak mengenalmu, bagiku kamu
sangat asing, tersenyumpun tidak, apalagi menyapamu. Saat kamu memperkenalkan
dirimu di depan kami, tak pernah aku hiraukan suaramu, aku asyik dengan teman-temanku
yang lain. Bagaikan suara angin sepoi-sepoi yang hanya aku rasakan saat
terlintas saja.
Namun
seiring berjalannya waktu, kebersamaan membuatku merasakan hal yang berbeda
ketika pertama kali kita bicara, ketika itu aku duduk berhadapan denganmu, ada
rasa nyaman ketika aku didekatmu. Rasa nyaman yang membuatku ingin slalu di
sampingmu. Nyaman mungkin adalah kata yang sederhana, sangat sederhana mungkin,
tapi memiliki makna yang berarti. Berarti karena tak semua orang bisa
merasakannya, tak sembarang orang bisa memilikinya. Saat itu pula aku mulai
mencuri perhatianmu
Mungkin
terasa aneh jika aku merasakan getaran cinta yang dia getarkan dalam relung
hati ini. Karena saat itu, aku masih bersama orang lain. Ingin aku menolak dan
mengelak reaksi cinta yang spontan hadir. Tapi apalah dayaku, energi dalam
hatiku tak cukup menahan energi dari
luar yang semakin kuat gelombang frekuensinya. Aura wajahnya yang menenangkan
itu, membuat jiwa ini terasa nyaman dan terbuai melihatnya.
Ketika
aku terbebas dari ikatan dengan yang lain. Bukan terbebas, lebih tepatnya
terlepas. Aku mulai berjalan sendiri dan mencoba melirik beberapa unsur di
sekitarku, salah satunya dia. Dan sifat keelektronegatifanku semakin kuat, aku
semakin dekat dengannya. Aku ingin membentuk ikatan dengannya, ikatan yang
kuat.
Awalnya
sulit sekali untuk menariknya masuk dalam kehidupanku. Dia terlalu jutek, acuh
tak acuh, dan menganggapku sebatas teman sekelas biasa. Tapi berbeda denganku,
aku ingin lebih dari sekedar teman teman untuknya. Aku ingin dia mengenalku
lebih jauh dan lebih dalam. Namun sayang, dia tak juga melepaskan elektron
cintanya untuk aku tangkap nantinya. Tapi aku takkan putus asa,akan aku tambah energi
dalamku untuk memancarkan gelombang cinta yang akan dia terima.
Ternyata
energiku tak sia-sia aku tambahkan. Dia mulai tertarik dan afinitas elektronnya
mulai bertambah. Lalu aku tambahkan lagi energi ionisasiku untuk menangkap elektron
cintanya. Dengan cepat dan spontan tanpa adanya katalis reaksi cintapun terjadi
diantara kita. Hingga akhirnya kita terbentuk sebuah ikatan, “Ikatan Cinta”.
Aku ingin ikatan yang terbentuk ini adalah ikatan yang kuat, tak mudah putus,
seperti “Ikatan Hidrogen”. Ikatan Hidrogen adalah ikatan yang sangat kuat
dibandingkan ikatan lainnya, ikatan ini tak mudah putus, jika ingin diputuskan
akan membutuhkan energi yang cukup besar untuk memutuskannya.
Tak
pernah aku duga sebelumnya. Ternyata menjalani hari-hari dengan ikatan yang
menurutku kuat, tak mudah, bahkan sangat sulit. Banyak sekali inhibitor yang
datang mencoba mengganggu ikatan kita. Awalnya mungkin kita kuat, bahkan
semakin kuat, karena posisi orbital kita dekat. Tapi, setelah jarak lintasan
kita menjauh dan semakin jauh, ikatan kita semakin tak terkendali, menurun
menjadi ikatan ion, sampai akhirnya benar-benar lepas kendali, menjadi ikatan
kovalen yang mudah putus.
Ikatan
yang semula kuat ini, tak mampu melawan energi yang tiba-tiba masuk. Energi
yang dipancarkan oleh unsur lain. Awalnya dia tak merespon adanya elektron baru
yang hadir dalam area ikatan kita, tapi karena aku yang tak peka dengan keadaan
ini, membuat elektron yang baru tersebut berusaha menarik dia. Dan alhasil,dia
masuk dan berhasil tertarik oleh elektron asing yang masuk dalam hidup kami.
Begitulah
ikatan kami, yang tak mampu menjadi ikatan hidrogen yang kuat. Reaksi cinta
yang berlangsung spontan, dan berjalan cukup lama, bisa kandas dan putus karena
elektron cinta yang dipancarkan oleh unsur baru tersebut. Aku tak tahu apakah
ikatannya yang baru tersebut mampu menjadi ikatan hidrogen yang kuat?.
Entahlah, biarkan waktu yang akan menjawabnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar