Tak
Mudah Mengerti Perasaanku dan Kamu
Waktu
berjalan, detik, menit, jam, sampai berbulan-bulan. Saat ini aku ingin belajar
memahami orang lain, mencoba untuk tersenyum menutupi kesedihan dan derita yang
ku rasakan. Setiap kali ada orang yang lewat lalu lalang dihadapanku, coba ku
sapa dengan senyuman. Karena ketika aku tersenyum, mereka kan ikut tersenyum
pula.
Memahami
orang lain tak semudah memecahkan rumus fisika yang telah tersurat dalam buku.
Butuh waktu dan proses, tak mungkin langsung sekejap aku bisa memahami dan
mengerti perasaan orang lain. Aku pun tak mungkin menuntut orang lain tuk bisa
mengerti perasaanku.
Tiba-tiba
terlintas dalam benakku ketika aku melihat sepasang kekasih berjalan di
hadapanku. Dag dig dug, jantungku terasa sakit,dan dadaku terasa sesak, benar
saja, aku kembali mengingat dia. Aku lari dan berlari tanpa menghiraukan apa
yang ada di sekitarku. Menahan tangis yang ingin aku luapkan, aku sampai di
kamarku, ku rebahkan tubuhku dalam kasur dank u tutup mataku dengan bantal. Ingin
aku berteriak sekencang-kencangnya.
Suara
ketukan pintu mengagetkanku, rupanya dia sahabatku menghampiriku. Sesegera
mungkin aku hapus air mataku dan tersenyum kepadanya.tapi, justru dia malah
membelai rambutku, seolah dia tau apa yang aku rasakan. Dia bertanya apa yang
terjadi. Meski ku jawab “aku rapopo”, dia malah tersenyum dan berkata kalau aku
tak perlu berbohong.
Aku
tak mampu lagi menahan kesedihanku, dan ku ceritakan apa yang terjadi,
berharapdia akan merasakan apa yang aku rasakan. Aku sakit dan iri melihat
mereka tersenyum, bercanda,tertawa ria bersama pasangan mereka. Sempat aku aku
berpikir untuk membalas dendam pada dia yang tlah meninggalkanku. Sempat pula
aku menyalahkan Tuhan mengapa tega memisahkanku dengannya.
Sahabatku
pun tak diam, dia mulai memberikan saran dan solusi dan berusaha menenangkanku. Tapi,entah mengapa aku
justrusemakin tertekan antara batin dan pikiran seolah tak sinkron lagi. Aku
merasa kalau dia tak mengerti perasaanku, dia hanya bisa member solusi yang
justru membuatku semakin bersalah.
Mungkin,
otakku sudah bersugesti negative, sampai-sampai aku berpikir kalau dia tak
mengerti apa yang aku rasakan. Ya, aku salah. Dia sahabatku bukan musuhku. Dia
hanya tak tega melihatku menangis. Memang benar, tak mudah mengerti dan
memahami perasaan orang lain. Terkadang ketika hati dan pikiran kacau, yang
kita inginkan hanya orang yang mau mendengarkan kita, bukan solusi yang
terkadang kita anggap itu membuat kita lebih tertekan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar