Selasa, 17 Juni 2014

Tak Mudah Mengerti Perasaanku dan Kamu

Tak Mudah Mengerti Perasaanku dan Kamu

                Waktu berjalan, detik, menit, jam, sampai berbulan-bulan. Saat ini aku ingin belajar memahami orang lain, mencoba untuk tersenyum menutupi kesedihan dan derita yang ku rasakan. Setiap kali ada orang yang lewat lalu lalang dihadapanku, coba ku sapa dengan senyuman. Karena ketika aku tersenyum, mereka kan ikut tersenyum pula.
                Memahami orang lain tak semudah memecahkan rumus fisika yang telah tersurat dalam buku. Butuh waktu dan proses, tak mungkin langsung sekejap aku bisa memahami dan mengerti perasaan orang lain. Aku pun tak mungkin menuntut orang lain tuk bisa mengerti perasaanku.
                Tiba-tiba terlintas dalam benakku ketika aku melihat sepasang kekasih berjalan di hadapanku. Dag dig dug, jantungku terasa sakit,dan dadaku terasa sesak, benar saja, aku kembali mengingat dia. Aku lari dan berlari tanpa menghiraukan apa yang ada di sekitarku. Menahan tangis yang ingin aku luapkan, aku sampai di kamarku, ku rebahkan tubuhku dalam kasur dank u tutup mataku dengan bantal. Ingin aku berteriak sekencang-kencangnya.
                Suara ketukan pintu mengagetkanku, rupanya dia sahabatku menghampiriku. Sesegera mungkin aku hapus air mataku dan tersenyum kepadanya.tapi, justru dia malah membelai rambutku, seolah dia tau apa yang aku rasakan. Dia bertanya apa yang terjadi. Meski ku jawab “aku rapopo”, dia malah tersenyum dan berkata kalau aku tak perlu berbohong.
                Aku tak mampu lagi menahan kesedihanku, dan ku ceritakan apa yang terjadi, berharapdia akan merasakan apa yang aku rasakan. Aku sakit dan iri melihat mereka tersenyum, bercanda,tertawa ria bersama pasangan mereka. Sempat aku aku berpikir untuk membalas dendam pada dia yang tlah meninggalkanku. Sempat pula aku menyalahkan Tuhan mengapa tega memisahkanku dengannya.
                Sahabatku pun tak diam, dia mulai memberikan saran dan solusi dan berusaha  menenangkanku. Tapi,entah mengapa aku justrusemakin tertekan antara batin dan pikiran seolah tak sinkron lagi. Aku merasa kalau dia tak mengerti perasaanku, dia hanya bisa member solusi yang justru membuatku semakin bersalah.

                Mungkin, otakku sudah bersugesti negative, sampai-sampai aku berpikir kalau dia tak mengerti apa yang aku rasakan. Ya, aku salah. Dia sahabatku bukan musuhku. Dia hanya tak tega melihatku menangis. Memang benar, tak mudah mengerti dan memahami perasaan orang lain. Terkadang ketika hati dan pikiran kacau, yang kita inginkan hanya orang yang mau mendengarkan kita, bukan solusi yang terkadang kita anggap itu membuat kita lebih tertekan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar