Sabtu, 05 Juli 2014

Percipitation of Heart



Ayah

                        Sesosok lelaki yang tangguh, berwibawa, keras, dan tegas. Itulah yang melekat pada diri seorang "ayah". Beliau adalah malaikat ke-2 dalam hidupku. Beliau yang dikirimkan Tuhan untukku. Tak sembarang Tuhan mengirimkannya dalam alur perjalanan hidupku. Bukan tanpa alasan beliau hadir di dunia ini. Imam dalam keluarga, pemimpin dalam rumah tangga, tulang punggung dalam keluarga kami. Bukan hanya materi yang selalu beliau berikan untuk kami, tapi pelajaran hidup, yang nantinya akan berguna untuk masa depan kami kelak.
                        Beliau lebih dari seorang tentara yang bersemangat ketika akan turun di medan perang. Lebih dari seorang polisi yang tegas. Lebih dari seorang hakim yang memutuskan perkara berat. Lebih dari seorang analis kimia yang mahir membuat larutan. Beliau lebih dari semua itu. Beliau sangat bersemangat ketika mengajarkan sesuatu hal pada kami. Beliau sangat tegas ketika menanamkan pentingnya disiplin dalam hidup. Beliau sangat bijaksana, slalu mempertimbangkan hukuman yang pantas ketika kami salah. Beliau mahir dalam menentukan pilihan hidup yang berharga untuk masa depan kami.
                        Ayah, sosok yang tegas namun berhati lembut. Tahukah kalian, ketika kalian jauh dari mereka, ayahlah yang slalu menyuruh ibu untuk menanyai kabar kalian. Mungkin terkadang kita tak sadar, yang kita tahu hanya ibu yang slalu perhatian. Kita salah, ayah pun sebenarnya sangat mengkhawatirkan kita. Hanya saja beliau menutupi kekhawatirannya dengan sikapnya yang dingin dan keras.
                        Kalian ingat tidak ketika kalian masih keci? Ayah memeluk kalian, menimang-nimang kalian dengan sangat hati-hati, memanjakan kalian. Apa yang kalian rasakan saat itu? Pasti bahagia sekali kan. Membuat kalian melambung, disisinya kalian terngiang, hangat, nafas, segar harum tubuhnya. Beliau tuturkan segala mimpi-minpi serta harapan kita. Beliau ingin kita menjadi yang terbaik untuknya. Mematuhi perintahnya dan menjauhkan godaan yang mungkin kita taklukan ketika kita beranjak dewasa. Jangan sampai membuatnya terbelenggu, jatuh, dan terinjak karena kelakuan kita.
                        Seandainya detik ini mampu ku putar kembali. Aku merindukan suasana itu, tuk membasuh jiwaku. Membahagiakan aku, beliau usapkan kasih dan sayangnya. Untuk wujudkan semua mimpi-mimpi dan harapan kita. Jangan pernah kita memilih ego kita, dengan mengorbankan masa-masa bersama beliau.
                        Aku jadi ingat lirik lagu ini "Tuhan tolonglah, sampaikan sejuta sayangku untuknya, ku kan berjanji takkan khianati pintanya. Ayah dengarlah, betapa sesungguhnya ku mencintaimu, kan ku buktikan ku mampu penuhi maumu".
                        Ayolah kawan, kita tunjukan kalau kita mampu menjadi yang terbaik baginya, tak hanya ayah, tapi juga ibu, dan keluarga kita di sana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar