Ayah
Sesosok
lelaki yang tangguh, berwibawa, keras, dan tegas. Itulah yang melekat pada diri
seorang "ayah". Beliau adalah malaikat ke-2 dalam hidupku. Beliau
yang dikirimkan Tuhan untukku. Tak sembarang Tuhan mengirimkannya dalam alur
perjalanan hidupku. Bukan tanpa alasan beliau hadir di dunia ini. Imam dalam
keluarga, pemimpin dalam rumah tangga, tulang punggung dalam keluarga kami.
Bukan hanya materi yang selalu beliau berikan untuk kami, tapi pelajaran hidup,
yang nantinya akan berguna untuk masa depan kami kelak.
Beliau
lebih dari seorang tentara yang bersemangat ketika akan turun di medan perang.
Lebih dari seorang polisi yang tegas. Lebih dari seorang hakim yang memutuskan
perkara berat. Lebih dari seorang analis kimia yang mahir membuat larutan.
Beliau lebih dari semua itu. Beliau sangat bersemangat ketika mengajarkan
sesuatu hal pada kami. Beliau sangat tegas ketika menanamkan pentingnya
disiplin dalam hidup. Beliau sangat bijaksana, slalu mempertimbangkan hukuman
yang pantas ketika kami salah. Beliau mahir dalam menentukan pilihan hidup yang
berharga untuk masa depan kami.
Ayah,
sosok yang tegas namun berhati lembut. Tahukah kalian, ketika kalian jauh dari
mereka, ayahlah yang slalu menyuruh ibu untuk menanyai kabar kalian. Mungkin
terkadang kita tak sadar, yang kita tahu hanya ibu yang slalu perhatian. Kita
salah, ayah pun sebenarnya sangat mengkhawatirkan kita. Hanya saja beliau
menutupi kekhawatirannya dengan sikapnya yang dingin dan keras.
Kalian
ingat tidak ketika kalian masih keci? Ayah memeluk kalian, menimang-nimang
kalian dengan sangat hati-hati, memanjakan kalian. Apa yang kalian rasakan saat
itu? Pasti bahagia sekali kan. Membuat kalian melambung, disisinya kalian
terngiang, hangat, nafas, segar harum tubuhnya. Beliau tuturkan segala
mimpi-minpi serta harapan kita. Beliau ingin kita menjadi yang terbaik
untuknya. Mematuhi perintahnya dan menjauhkan godaan yang mungkin kita taklukan
ketika kita beranjak dewasa. Jangan sampai membuatnya terbelenggu, jatuh, dan
terinjak karena kelakuan kita.
Seandainya
detik ini mampu ku putar kembali. Aku merindukan suasana itu, tuk membasuh
jiwaku. Membahagiakan aku, beliau usapkan kasih dan sayangnya. Untuk wujudkan
semua mimpi-mimpi dan harapan kita. Jangan pernah kita memilih ego kita, dengan
mengorbankan masa-masa bersama beliau.
Aku
jadi ingat lirik lagu ini "Tuhan tolonglah, sampaikan sejuta sayangku
untuknya, ku kan berjanji takkan khianati pintanya. Ayah dengarlah, betapa
sesungguhnya ku mencintaimu, kan ku buktikan ku mampu penuhi maumu".
Ayolah
kawan, kita tunjukan kalau kita mampu menjadi yang terbaik baginya, tak hanya
ayah, tapi juga ibu, dan keluarga kita di sana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar