Minggu, 06 Juli 2014

Cerpen



Misteri Ruang Tua

                Malam ini aku coba untuk memejamkan mata. Tapi, ini sulit sekali kulakukan. Sampai jam dinding kamarku menunjukan pukul 02.00 baru aku bisa tertidur. Pagi pun tiba, seperti biasa aku berangkat ke sekolah diantar sopir pribadiku yang sudah hampir 3 tahun setia mengantarku kemana aku pergi. Sampai di sekolah, aku ingin sekali bermain basket, “Lena, main basket yuk di lapangan”,ajak aku. Lena adalah sahabatku dari SMP sehingga kita sudah lumayan dekat.
                Tiba-tiba bola basket kami masuk ke ruangan tua bekas toilet, yang sekarang sudah dipindah.
                “Aduu…h Febe! Kenapa kamu masukin bola ke ruang tua itu sih? Harusnya kamu masukin ke ring!”, bentak Lena.
                “Maaf…tadi aku kan nggak sengaja, ya udah deh, aku yang ngambil, bentar ya?” kataku.
                Akhirnya terpaksa aku masuk ke ruang tua itu. Di dalam pengap sekali, seperti ada bau bangkai. Ketika aku akan mengambil bola, tiba-tiba aku melihat benda kecil yang bersinar dipermukaan pintu bagian depan, di salah satu ruangan kecil untuk toilet. Lalu aku ambil benda itu.
                “Febe !!! kamu nggak pingsan di dalam kan?” teriak Lena dari luar.
                “Iya ! bentar lagi aku keluar!”, kataku sambil membawa benda kecil yang mirip diamond, dan cepat-cepat ku masukkan ke dalam saku.
                “Kamu tadi lihat apa di sana?”, tanya Lena.
                “Aku cuma lihat bola ini. Aku jadi buru-buru soalnya takut dimarahin sama guru!”, jelasku.
                Sampai di rumah, aku meletakkan benda ini di meja riasku.
***
                Malam harinya aku bermimpi melihat seorang seusiaku di ruang tua itu. Dia telah meninggal, dan tubuhnya terpisah-pisah. Sejak itu, mimpi-mimpi aneh selalu datang. Tapi yang paling aneh, mimpi-mimpi itu selalu berhubungan. Malam berikutnya, hujan deras dan petir kembali datang. Tak seperti biasanya, angin berhembus begitu kencang menambah ngerinya malam ini. Sosok bayangan putih tiba-tiba saja muncul di hadapanku, dan sekejap lalu menghilang.
***
                Aku bangun kesiangan, mungkin karena aku merasa penasaran dengan kejadian semalam. Sosok gadis semalam, membuatku ngeri dan ingin menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi padanya. Kenapa wajah yang ia tampakkan semalam seolah menyimpan kesedihan yang nyata.
                Nanti malam, Lena dan Siska menginap di rumahku. Ada sesuatu yang ingin kami lakukan, berkaitan dengan mimpi aneh yang selalu ada dalam tidurku. Kami akan bermain jelangkung. Bukan karena kami hanya ingin main-main, tapi ingin mencari tahu siapa gadis itu dan mengapa dia menggangguku di setiap malam.
***
                Malam ini, sesuai dengan rencana, Lena dan Siska menemaniku di rumah. Selain karena rencana kami, juga karena aku merasa takut karena sering dihantui gadis itu. Kami mulai bermain jelangkung. Tiba-tiba suasana malam ini berubah mencekam, angin malam berhembus kencang, gorden jendela kamarku terombang-ambing, bulu kuduk kami berdiri, bau darah seolah menusuk hidung kami, dan pensil jelangkungnya bergerak sendiri menuliskan sesuatu. Putri, itulah yang tertulis dari pensil tersebut, tiba-tiba sosok bayangan putih berambut panjang muncul di hadapan kami. Dan, saking takutnya kami teriak, ”Aaaarghhh, haaaantuuuuu!!”. Kami pun pingsan, tapi anehnya, kami seolah di bawa ke dalam kejadian masalalu gadis itu. Namanya Putri, usia 17 tahun di tahun 2010, artinya sekarang dia berumur 21 tahun. Dia meninggal karena dibunuh oleh mantan pacarnya, namanya Kak Doni, dan untuk menghilangkan jejaknya, Kak Doni membuang mayat Putri di ruang tua tersebut.
***
                Kini kami sudah tau siapa sosok hantu tersebut. Pagi ini, kami segera menemui kepala sekolah. Kami ingin menanyakan tentang kasus tersebut. Dan ternyata Putri adalah anak bapak kepala sekolah kami. Sebenarnya beliau tau tentang kasus ini, namun beliau malu untuk mengungkapnya. Kini beliau sadar, kalau Putri tidak tenang di alam sana. Beliau akan segera melaporkan kasus ini pada polisi. Sehingga mayat Putri bisa segera dievakuasi dan dimakamkan dengan layak.
                “Sekarang tinggal masalah Kak Doni, dia harus bertanggung jawab atas perbuatannya”, kataku pada Lena dan Siska.
                Kami segera menemui Kak Doni, awalnya dia menyangkal, tapi akhirnya dia mau jujur dan mengakui kesalahannya. Saat itu, Kak Doni diputus oleh Putri, dengan alasan Putri ingin fokus belajar. Tadinya, Kak Doni sudah terima keputusan Putri, tapi Kak Doni sering melihat Putri dengan teman-teman lelakinya. Hal inilah yang membuat Kak Doni tidak terima, merasa dibohongi, dan tega membunuh pacarnya sendiri.
                 Kak Doni berjanji akan menyerahkan diri ke kantor polisi. Tapi untuk memastikannya, kami mengikutinya dari belakang. Dan ternyata benar, Kak Doni berani mengakui kesalahannya di kantor polisi. Kini sudah terungkap semua kasus ini. Kak Doni menyerahkan diri, dan mayat Putri sudah dimakamkan selayaknya. Tiba-tiba bayangan hantu Putri muncul lagi dan tersenyum pada kami, lalu hilang seketika.
                “Padahal, tadinya aku sempat naksir Kak Doni lho, ganteng tapi sayang ya tega membunuh mantannya sendiri”, kata Siska.
                “Terus sekarang masih naksir nggak?”, haha ledek aku dan Lena. “Itu artinya, kita tidak boleh tertipu hanya dengan tampangnya yang ganteng, hatinya kan belum tentu setampan wajahnya”. Itulah kata bijak dariku untuk aku dan teman-temanku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar